Aksi Gerakan Salatiga Bersatu
Kamis, 8 April 2010 - 3:03:59 PM
Badan Perwakilan Mahasiswa Universitas (BPMU) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) yang tergabung dalam Gerakan Salatiga Bersatu (Gesab), menggelar aksi menolak Free Trade Agreement (FTA) dan China-Asean Free Trade Agreement (CFTA), Rabu (7/4).
Aksi yang bermula di kampus UKSW tersebut diawali dengan orasi. Massa kemudian bergerak menuju bundaran Tamansari. Sekitar 10 menit, perwakilan dari setiap organisasi menyampaikan orasinya. Aksi orasi berlanjut di Pasar Raya II. Perwakilan dari Teater Kronis UKSW juga turut membacakan refleksi singkat.
Dalam aksi tersebut, Gesab meyerukan 4 poin penting kepada seluruh elemen masyarakat Salatiga pada khususnya dan masyarakat pada umumnya, yaitu menolak kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada masyarakat Indonesia, mendesak pemerintah membangun jejaring ekonomi kerakyatan, melakukan penjagaan aset-aset lokal dan membuka akses pasar terhadap produk lokal.
Selain BPMU UKSW, ikut tergabung dalam Gesab organisasi mahasiswa lainnya di Salatiga seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STIE AMA, Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI), Liga Mahasiswa Nasional Untuk Demokrasi (LMND), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Berita terkait juga dapat dilihat di Harian Suara Merdeka. (upk_bphl/ft:upk)
SUARA MERDEKA
8 April 2010
Gesab Demo Tolak FTA
SIDOREJO - Sejumlah mahasiswa beberapa perguruan tinggi yang menamakan dirinya Gerakan Salatiga Bersatu (Gesab), Rabu (7/4) pagi, melakukan aksi unjuk rasa menolak kesepakatan perdagangan bebas (free trade agreement-FTA).
Petrus Gatot, koordinator lapangan aksi itu mengatakan, kebijakan FTA yang ditandatangani Pemerintah Indonesia menjadi bumerang proses industrialisasi dalam negeri. China sebagai raksasa baru negara industri, akan melakukan ekspor besar-besaran produknya ke negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Dampak perdagangan bebas itu membuat industri dalam negeri bakal terpuruk karena kalah bersaing. ’’Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) akan kalah bersaing dengan pemodal besar,’’ ujarnya.
Gesab meminta agar masyarakat menolak kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada rakyat, mendesak pemerintah membangun jaringan ekonomi kerakyatan, melakukan penjagaan aset-aset lokal, serta membuka akses pasar terhadap produk lokal. Petrus Gatot mengungkapkan pula bahwa banyak kebijakan pemerintah yang pada akhirnya merugikan rakyat. (H2-16)
Petrus Gatot, koordinator lapangan aksi itu mengatakan, kebijakan FTA yang ditandatangani Pemerintah Indonesia menjadi bumerang proses industrialisasi dalam negeri. China sebagai raksasa baru negara industri, akan melakukan ekspor besar-besaran produknya ke negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Dampak perdagangan bebas itu membuat industri dalam negeri bakal terpuruk karena kalah bersaing. ’’Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) akan kalah bersaing dengan pemodal besar,’’ ujarnya.
Gesab meminta agar masyarakat menolak kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada rakyat, mendesak pemerintah membangun jaringan ekonomi kerakyatan, melakukan penjagaan aset-aset lokal, serta membuka akses pasar terhadap produk lokal. Petrus Gatot mengungkapkan pula bahwa banyak kebijakan pemerintah yang pada akhirnya merugikan rakyat. (H2-16)
Diambil dari website www.suaramerdeka.com pada tanggal 8 april 2010
15.12
Unknown




0 komentar:
Posting Komentar